Kamis, 29 Juli 2010

KEMAMPUAN PROFESIONAL DAN PROFESI GURU AGAMA



 I.PENDAHULUAN            
Adalah suatu keharusan bagi setiap individu  untuk meningkatkan kualitas profesinya guna menunjang kelancaran tugas dan tanggung jawabnya. Di kala seseorang terjun dalam suatu bidang ilmu ataupun keahlian maka di sinilah ia dituntut untuk mendalami dan mempelajari bidang tersebut dan kemudian mengaplikasikannya bagi kepentingan umum.
Guru, merupakan salah satu tugas dan tanggung jawab yang membutuhkan profesionalitas karena didalamnya membutuhkan keahlian dan keterampilan untuk mendidik, mengajar dan melatih bukan hanya sekedar transfer of  knowlage, maka dari itu patutlah jika seorang guru harus memiliki profesionalitas dalam mengemban tugas dan tanggung jawabnya. Dengan demikian jenis pekerjaan ini tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan walaupun kenyataannya masih dilakukan orang di luar kependidikan. Itulah sebabnya jenis profesi ini paling mudah terkena pencemaran.
               Sungguh pun jika seseorang pandai berbicara dalam suatu bidang tertentu namun belum dapat disebut sebagai guru tanpa didukung dengan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru yang profesional yang harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.
               Maka dari itu pada kesempatan kali ini saya sengaja mengulas yang menyangkut tentang kemampuan profesional dan profesi guru agama.      

II. PEMBAHASAN
A. Pengertian dan syarat profesi
Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwasanya profesional menuntut suatu keahlian khusus dalam bidang tertentu dan sedangkan yang dimaksud dengan guru profesional berarti orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya, (Agus F. Tamyong, 1987)
Terkait pada profesi, mengingat tugas dan tanggung jawab guru yang begitu kompleknya, maka profesi ini memerlukan persyaratan khusus antara lain:
1.        Menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengatahuan yang    mendalam.
2.        Menekankan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
3.        Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang mamadai
4.        Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan dari pekerjaan yang dilaksanakannya.
5.        Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
      (Drs. Moh. Ali, 1985)
Selain persyaratan tersebut, sebetulnya masih ada persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap pekerjaan yang tergolong ke dalam suatu profesi antara lain:
1.        memiliki kode etik, sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
2.        memiliki klien/objek  layanan yang tepat, seperti guru dengan muridnya.
3.        diakui oleh masyarakat karena memang diperlukan jasanya di masyarakat.
Atas dasar persyaratan tersebut, jelaslah jabatan profesional harus ditempuh melalui jenjang pendidikan yang khusus mempersiapkan jabatan itu. Demikian juga dengan profesi guru, harus ditempuh melalui jenjang pendidikan pre service education seperti PGSD, IKIP atau fakultas keguruan lainnya.[1]

B. Peran, Tugas dan kompetensi guru
                Dalam melaksanakan tugasnya, guru tidak bekerja hanya mengandalkan kemampuannya secara individual. Karena itu, para guru perlu bekerja sama antara sesama guru dan dengan pekerja-pekerja sosial, lembaga-lembaga kemasyarakatan, serta dengan persatuan orang tua murid. Peranan kerja sama dalam pengajaran di antara guru secara formal dikembangkan dalam sistem pengajaran beregu.
                Dalam proses pembelajaran di sekolah, peranan guru lebih spesifik sifatnya dalam pengertian yang sempit, yakni dalam hubungan proses pembalajaran. Peranan guru adalah sekaligus sebagai pengorganisator lingkungan belajar dan sebagai fasilitator belajar( Thomas E. Curtis dan Wilma W. Bidwell, 1977 ). Peranan pertama meliputi peranan yang lebih spesifik, yakni: 1) guru sebagai model, 2) guru sebagai perencana, 3) guru sebagai peramal, 4) guru sebagai pemimpin, 5) guru sebagai penunjuk jalan atau sebagai pembimbing ke arah pusat-pusat belajar.[2]
                Dari berbagai peran guru yang ada secara spesifik, guru juga memiliki peran  dalam lingkup lebih luas lagi, Namun halnya dari berbagai peran tersebut, untuk mempelancar proses pembalajaran, hendaknyalah guru didukung dengan memiliki sifat-sifat berikut:
1.        suka membantu dalam pekerjaan sekolah.
2.        gembira riang mempunyai rasa humor, dapat menghargai lelucon.
3.        sebagai manusia biasa suka berteman dengan murid, menganggap dirinya seorang anggota dari kelas.
4.        mempunyai minat terhadap murid dan memahami murid-muridnya.
5.        membangkitkan minat untuk belajar.
6.        tegas, dapat mengendalikan kelas.
7.        adil tidak mempunyai anak mas.
8.        tidak suka marah-marah, kasar atau suka mencela.
9.        memiliki pribadi yang menarik dan menyenangkan.[3]
Dengan memiliki sifat-sifat demikian, guru akan lebih bisa memaksimalkan profesinya pada jenjang profesionalitas yang lebih berkualitas.  
                Secara luas guru memang memiliki banyak tugas,dalam bentuk pengabdian. Apabila dikelompokkan, terdapat tiga jenis tugas guru, yakni 1.tugas kemanusiaan, dalam artian guru harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para siswanya dan menjadi motifator baginya.2.Tugas dalam bidang kemasyarakatan, dari sini guru berkewajiban untuk mengayomi masyarakat guna mencerdaskan bangsa dan pada hakikatnya pula guru memang merupakan komponen strategis yang memilih peran penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa. 3. tugas dalam bidang profesi, di sini menyatakan bahwasanya guru memang merupakan suatu profesi dimana pekerjaan ini memerlukan keahlian khusus.[4]   
Permasalahan pokok dalam jabatan profesi adalah pelaksanaan dan konsekuensi jabatan tersebut terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Dalam hubungan ini sekurang-kurangnya terdapat tiga tugas dan tanggung jawab guru, yaitu:
·         Tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar.
·         Tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik dan pembimbing.
·         Tugas dan tanggung jawab guru sebagai administrator kelas.
Sementara itu tugas dan tanggung jawab guru meliputi juga terhadap upaya pengembangan kurikulum, tanggung jawab dalam pengembangan profesi dan tanggung jawab dalam membina hubungan dengan masyarakat.
Salah satu ciri guru yang profesional ialah guru itu harus meningkatkan profesinya secara menerus. Adapun ciri-ciri guru yang profesional antara lain adalah:
1.        Jabatan guru adalah tugas membimbing, mengajar, melatih dan lebih dari sekedar mencari nafkah.
2.        Guru harus memiliki kompetensi yang ditujukan oleh ijazah.
3.        Mengajar mempersyaratkan kemampuan mengajar dan keterampilan yang tepat.
4.        Guru perlu meningkatkan dirinya setiap saat agar tumbuh dan berkembang dalam jabatan.
5.        Guru harus memiliki kode etik yang disepakati.[5]
Profesi guru berkaitan erat dengan kemampuan yang dipersyaratkan untuk memangku jabatan profesi tersebut. Kemampuan dasar yang dimaksud adalah kompetensi guru.
Kompetensi guru dapat digolongkan menjadi tiga bagian:
·         Kompetensi bidang kognitif, yaitu kemampuan intelektual
·         Kompetensi bidang sikap, yaitu kesiapan dan kesediaan guru terhadap berbagai hal berkenaan dengan tugas dan profesinya.
·         Kompetensi tentang perilaku guru, yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan, melaksanakan administrasi kelas dan lain-lainnya.
Di Indonesia kompetensi guru telah dikembangkan oleh P3G (Proyek Pembinaan Pendidikan Guru) yaitu terdiri dari 10 kompetensi:
1.        Menguasai bahan pelajaran.
2.        Mengelola belajar mengajar.
3.        Mengelola kelas.
4.        Menggunakan media/ sumber balajar
5.        Menguasai landasan kependidikan.
6.        Mengelola interaksi belajar mengajar.
7.        Menilai prestasi belajar.
8.        Mengenal fungsi dan layanan bimbingan penyuluhan.
9.        Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah.
10.     Memahami dan menafsirkan hasil penelitian sederhana dibidang kependidikan
Adapun kemampuan dasar yang mendukung profesionalisme guru, yaitu:
1.        Merencanakan program mengajar.
2.        Mengelola proses belajar mengajar
3.        Menilai kemajuan proses belajar mengajar.
4.        Menguasai belajar mengajar.
Tinggi rendahnya pengukuran terhadap profesi guru salah satu diantaranya diukur dari tingkat pendidikan yang ditempuhnya dalam pempersiapkan jabatan guru (preservice education).
Untuk menghasilkan tenaga guru yang memiliki kompetensi profesional, perlu dikembangkan sistem pendidikan guru yang dikembangkan berdasarkan kompetensi. Artinya program pendidikan yang diberikan pada lembaga pendidikan guru disusun dan dikembangkan atas dasar analisis tugas yang disyaratkan bagi pelaksanaan tugas-tugas keguruan. Dalam hubungan ini sekurang-kurangnya terdapat empat anggapan dasar yang mendasari perangkat kompetensi guru tersebut, yaitu asumsi yang berkenaan dengan pandangan:[6]
1.        Hakikat pendidikan.                             .
2.        Hakikat guru sebagai pendidik.
3.        Hakikat anak sebagai peserta didik.     
4.        Hakikat belajar mengajar.
Dari kompetensi guru yang terkait pada profesionalitas ini, maka begitu pula pengembangan profesi guru agama, memerlukan ketekunan dalam sistem pengelolaan komponen profesional yang sangat mendasar. Dan tampaknya, pengadaan tenaga kependidikan tidak sederhana dan dikembangkan dalam pelembagaan berbentuk program diploma di IKIP atau IAIN fak. Tarbiyah, tetapi barangkali Departeman Agama perlu meninjau ulang kebijaksanaan pelembagaan pengadaan guru agama (LPTK Guru PAI) untuk dilembagakan dalam bentuk satuan pendidikan yang mendiri pada jenjang pendidikan tinggi yaitu dalam bentuk akademi, bahkan diperlukan dengan sistem asrama, bukan hanya dalam bentuk program sebagai bagian dari kegiatan suatu fakultas.
Dengan pengadaan guru PAI melalui akademi, kemampuan profesional akan terbentuk, demikian pula dalam penguasaan dan pengalaman agamanya, sehingga mampu juga untuk menjadi uswatun hasanah, dikerenakan pula guru PAI juga perlu dipersiapkan untuk penyelenggaraan pendidikan luar sekolah, pengajian majlis ta’lim dan pendidikan di lingkungan keluarga.
Dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan serta untuk membina hubungan kerjasama secara koordinatif dan fungsional antara sesama guru PAI, maka disini adanya kegiatan profesional dalam suatu bentuk Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama (KKG PAI) dan ini tergabung dalam organisasi gugus sekolah dengan memanfaatkan potensi yang ada pada masing-masing guru. KKG PAI ini berfungsi sebagai forum konsultasi antara sesama guru PAI dalam peningkatan kemampuan profesionalnya.[7]
III. PENUTUP
Guru merupakan profesi yang sangat penting dalam mencerdaskan bangsa begitu pula guru agama. Sebagai negara yang beragama, guru agama dituntut dalam profesinya untuk menumbuhkan moral dan akhlak bangsa serta dapat menjadikan dirinya sauri taularan bagi yang lainnya.
Demikian adanya pembahasan ini yang kurang lebihnya masih membutuhkan kritikan yang membangun.Wassalam.        

REFERENSI
Muhktar, M.Pd, Dr. Yasmin Martinis, M. Pd, Drs. Metode pembelajaran yang berhasil, Jakarta: CV Sasama Mitra Suksesa, 2002. cet. II
Rachman Shaleh, Abdul. Pendidikan Agama dan Keagamaan ( Visi, Misi dan Aksi ), Jakarta: PT Gemawindu Pancaperkasa , 2000. cet.I
Uzer usman, Moh, Drs. Menjadi Guru profesional, Bandung: PT remaja Rosdakarya,2002. cet. XIV
Witherington, H.C. Burton, W.H. Bapemsi. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar, Bandung: Jemmars, 1986. ed.III


[1] Uzer Usman, Moh. Menjadi guru profsional, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2002) hal. 14-15 
[2] Mukhtar. Yamin, Martinis. Metode Pembalajaran yang Berhasil, ( jakarta: CV Sasama Mitra Suksesa, 2002 ) hal.84
[3] Witherington. Burton. Bapemsi. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar, (Bandung: Jemmars, 1986) hal.134
[4] Op cit.Uzer Usman, Moh. hal. 7
[5] Rachman Saleh, abdul. Pendidikan Agama dan Keagamaan ( Visi, Misi dan Aksi ) ( Jakarta : PT. Gemawindu Pancaperkasa, 2001 ) hal. 165-167
[6] Ibid. hal. 168-169
[7] Ibid. hal. 170

Kamis, 22 Juli 2010

ANAK KECIL YANG TAKUT API NERAKA

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahawa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai, sedang dia berjalan-jalan dia terpandang seorang anak kecil sedang mengambil wudhu' sambil menangis.
Apabila orang tua itu melihat anak kecil tadi menangis, dia pun berkata, "Wahai anak kecil kenapa kamu menangis?"
Maka berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik saya telah membaca ayat al-Qur'an sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, "Yaa ayyuhal ladziina aamanuu quu anfusakum" yang bermaksud, " Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu." Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka."

Berkata orang tua itu, "Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalm api neraka."
Berkata anak kecil itu, "Wahai pakcik, pakcik adalah orang yang berakal, tidakkah pakcik lihat kalau orang menyalakan api maka yang pertama sekali yang mereka akan letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa."

Berkata orang tua itu, sambil menangis, "Sesungguh anak kecil ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa maka bagaimanakah keadaan kami nanti?"

Kamis, 10 Juni 2010

RAHASIA KHUSYUK DALAM SALAT

Seorang ahli ibadah bernama Isam bin Yusuf, dia sangat warak dan sangat khusyuk solatnya. Namun dia selalu khawatir kalau-kalau ibadahnya kurang khusyuk dan selalu bertanya kepada orang yang dianggapnya lebih ibadahnya, demi untuk memperbaiki dirinya yang selalu dirasakan kurang khusyuk. 
Pada suatu hari, Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Isam dan bertanya : "Wahai Aba Abdurrahman, bagaimanakah caranya tuan solat?" 
Hatim berkata : "Apabila masuk waktu solat aku berwudhu' zahir dan batin." 

Isam bertanya, "Bagaimana wudhu' zahir dan batin itu?" 
Hatim berkata, "Wudhu' zahir sebagaimana biasa, yaitu membasuh semua anggota wudhu' dengan air. Sementara wudhu' batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara :- 

1. bertaubat 
2. menyesali dosa yang dilakukan 
3. tidak tergila-gilakan dunia 
4. tidak mencari / mengharap pujian orang (riya') 
5. tinggalkan sifat berbangga 
6. tinggalkan sifat khianat dan menipu 
7. meninggalkan sifat dengki 

Seterusnya Hatim berkata, "Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggotaku dan menghadap kiblat. Aku berdiri dengan penuh kewaspadaan dan aku bayangkan Allah ada di hadapanku, syurga di sebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, malaikat maut berada di belakangku, dan aku bayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian 'Sirratul Mustaqim' dan aku menganggap bahawa solatku kali ini adalah solat terakhirku, kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik. 

Setiap bacaan dan doa dalam solat kufaham maknanya, kemudian aku ruku' dan sujud dengan tawadhu', aku bertasyahhud dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersolat selama 30 tahun." 
Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadahnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Senin, 07 Juni 2010

AL-QUR'AN SEBAGAI PEMBELA DI HARI AKHIRAT

Abu Umamah r.a. berkata : "Rasulullah S.A.W telah menganjurkan supaya kami semua mempelajari Al-Qur'an, setelah itu Rasulullah S.A.W memberitahu tentang kelebihan Al-Qur'an."
Telah bersabda Rasulullah S.A.W : Belajarlah kamu akan Al-Qur'an, di akhirat nanti dia akan datang kepada ahli-ahlinya, yang mana di kala itu orang sangat memerlukannya."
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan ia bertanya, " Kenalkah kamu kepadaku?" Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : "Siapakah kamu?"

Maka berkata Al-Qur'an : "Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan juga telah bangun malam untukku dan kamu juga pernah membacaku di waktu siang hari."
Kemudian berkata orang yang pernah membaca Al-Qur'an itu : "Adakah kamu Al-Qur'an?" Lalu Al-Qur'an mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca mengadap Allah S.W.T. Lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.

Pada kedua ayah dan ibunya pula yang muslim diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia walau berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya : "Dari manakah kami memperolehi ini semua, pada hal amal kami tidak sampai ini?"
Lalu dijawab : "Kamu diberi ini semua kerana anak kamu telah mempelajari Al-Qur'an."

Rabu, 02 Juni 2010

Fenomenologi Simbolik al-Qur’an

Fenomenologi Simbolik al-Qur’an

Suatu ketakjuban yang terasa dikala pertama kali mengetahui keilmuan ini yang begitu dahsyat, memberikan kontribusi baru dalam dunia penafsiran Qur’an, dengan memberikan pembuktian yang lebih kompleks yang bukan sekedar mengartikan konteks setiap ayat, namun mengbongkar setiap makna simbol yang tercantum di Qur’an
Dari metodologi ini benar-benar membuka mata kita di mana Qur’an menunjukkan dirinya sebagai Huda (petunjuk) Assyifa (penyembuh) dan gudang dari segala ilmu yang ada di alam semesta ini, bahkan dari sini pula kita dapat mengenal jati diri, mengenal karakter dasar manusia yang selama ini kebanyakan orang merujuk seperti halnya pada zodiak, shio, atau keilmuan lainnya yang serupa. Dan yang terpenting di sini adalah bukannya seberapa detail Qur’an itu dapat menguak karakter dasar manusia namun seberapa besar keinginan kita untuk belajar, mengkaji, bereksperimen dan terus menggali isi Qur’an yang tak akan pernah habis untuk digali.

Metodologi ini pertama kali ditemukan Ust Lukman Abdul Qohar Sumabrata (almarhum). Melalui pergulatan intelektual dan spiritualnya selama 20 tahun, beliau telah menemukan makna-makna baru yang konsisten dan unik dalam susunan Qur’an. susunan Qur’an dalam hal ini berupa unsur simbolik seperti huruf, angka, juz, surat maupun ayat yang selama ini belum pernah diperhatikan secara khusus dalam study Qur’an konvensional.
Sebagaimana metodologi ilmu tafsir pada umumnya, metodologi “Fenomenologi Simbolik al-Qur’an” ini juga telah dikembangkan melalui kelompok diskusi atau pusat studi Qur’an terutama di kalangan anak-anak muda (mahasiswa) di beberapa tempat. Penemuan ini telah menjadi milik kolektif umat Islam, sebagai alternatif terhadap metodologi ilmu tafsir konvensionalyang telah berkembang cukup lama.
Segi yang unik dari metodologi ini terletak pada model pemaknaannya yang langsung berkaitan dengan aspek konkrit kehidupan manusia. Misalnya, setiap simbol dalam Qur’an merupakan gambaran real setiap manusia. Interpretasi yang dilakukan juga tidak semata-mata bersifat teoritis-spekulatif, melainkan telah di-deduksikan dan diuji-cobakan melalui eksperimen empirik.

Melalui metodologi ini, keseluruhan fenomena simbolik dalam Qur’an baik huruf (abjad), angka, surat maupun juz, secara logis-empiris dapat dibuktikan memiliki realitas obyektif, baik berupa fenomena budaya, manusia maupun alam semesta.
Proses kreatif yang dialami Ust Lukman Abdul Qohar Sumabrata tersebut, sebagaimana telah terbukti dapat ditransfer oleh setiap orang, merupakan peristiwa yang dapat dialami setiap orang. Proses tersebut dapat terjadi apabila seseorang memformat diri dengan membaca teks Qur’an, yaitu membacanya tanpa pretensi untuk menerjemahkan ayat itu ke dalam bahasa budaya. Pemaknaan terhadap Qur’an merupakan “tanggung jawab” Qur’an itu sendiri yang secara eksistensial berada dalam struktur tubuh setiap manusia. Dengan kata lain, oleh karena ke-114 surat dalam Qur’an merupakan gambaran mikro dan makro-kosmik, maka ketika manusia membaca seluruh kandungan Qur’an secara eksistensial berarti ia bercermin dan berdialog. Membaca Qur’an merupakan salah satu sarana manusia melakukan dialog, baik internal dengan diri sendiri maupun dialog eksternal dengan alam semesta termasuk dialog simbolik dan energetik.

Apabila penjelalasan ini perlu dilegitimasi oleh ayat Qur’an, maka ada beberapa ayat yang dapat dipakai untuk membenarkan metode ini, yaitu dalam surat ke-75 (Al-Qiyamah) ayat 16-19:
16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. 17. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. 18. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. 19. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.
Inilah salah satu prinsip metodologis pemahaman Qur’an. pada instansi pertama, orang perlu membaca Qur’an sebagai sarana untuk bercermin dan mengenal diri apa yang dialami ust Lukman, setelah berkali-kali tamat dalam membaca Qur’an, seluruh anggota tubuh berbicara secara simbolik melalui gerakan-gerakan tertentu dan menuntut diberi pemaknaan. Kesadarannya masih terkontrol tetapi tak berdaya untuk menahan dan menolak gerakan yang ia sendiri tidak menginginkannya, misalnya dia mengalami kebutaan selama beberapa hari. Tetapi ironiknya kebutaan tersebut hanyalah merupakan sandi yang harus dipecahkan oleh dirinya melalui suatu pemaknaan keilmuan tertentu, sesuai dengan sandi-sandi yang ada dalam Qur’an
Setiap sandi yang ia terima dari tubuhnya haruslah diterjemahkan ke dalam suatu konsepsi atau pengertian tertentu, berkaitan dengan sandi yang ada dalam Qur’an. jika suatu sandi belum terpecahkan maka ia akan tetap dikerjakan oleh dirinya sendiri. Sandi keilmuan itu muncul baik pada waktu salat, pada saat ia membaca Qur’an atau pada saat ia memikirkan makna Qur’an. sandi keilmuan bedatangan bertubi-tubi melalui berbagai bentuk misalnya: tiba-tiba kaki lumpuh, mulut bisu, berjalan mundur, tiba-tiba dirinya disujudkan, tangan bergerak tak terkendali dan gerakan lain yang mencerminkan bentuk huruf (abjad) tertentu
Dengan dasar inilah kemudian ditemukan makna sandi yang ada di dalam Qur’an. sebenarnya proses spiritual semacam ini banyak disinyalir dalam Qur’an, misalnya surat ke 36 (Yasiin) ayat 65 dan surat ke 41 (Fushilat) ayat 35
[36.65] Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.
[41.53] Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
Dengan ayat ini jelaslah bahwa struktur tubuh kita sesungguhnya mencerminkan suatu bentuk susunan sandi (ayat) sebagaimana susunan Qur’an itu sendiri. Oleh karena itu, seseorang dapat mencapai tingkat “mukayafah” (kepekaan tinggi) dengan cara membaca Qur’an. ketika seseorang telah mencapai tertentu, maka setiap anggota tubuh dapat berbicara memberikan simbol dan sinyal keilmuan sebagaimana dinyatakan ayat tersebut di atas dan itulah pengalaman spiritual.

Seekor laba-laba pun telah memberikan pelajaran pada kita, bagaimana ia tak pernah berputus asa membangun rumahnya yang rapuh itu, meskipun rumahnya dirusak beribu kali. Oleh karena itu, dalam surat ke 29 (al-ankabut) ayat 69 disebutkan:
[29.69] Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.
Dengan demikian dalam konteks sekarang ini kepentingan kita barangkali tidak lagi terpaku pada bagaimana, kenapa, dan oleh siapa suatu “metodologi baru” Qur’an itu ditemukan. Kepentingan yang lebih urgen untuk saat ini barangkali bagaimana menguji “penemuan” itu secara ilmiah. Apakah suatu penemuan itu dapat membuktikan dirinya sebagai sesuatu yang logis, konsisten dan bermanfaat bagi manusia

Beberapa Asumsi Dasar (Paradigma)


Metodologi Fenomenologi simbolik yang dikembangkan untuk melakukan interpretasi terhadap aspek simbolik susunan Qur’an didasarkan atas asumsi sebagai berukut:
1.       Qur’an kitab yang di tulis dalam bahasa sandi atau simbol. Dengan demikian Qur’an bukan hanya berupa susunan tanda bunyi yang mencerminkan bahasa lisan atau bahasa bunyi (kata-kata verbalis)
2.       Qur’an satu kitab yang disusun dalam suatu format tertentu dan didalamnya terkandung berbagai unsur simbolik yang tersusun secara holistik. Setiap unsur terkait satu sama lain dan saling memberikan makna simbolik terhadap keseluruhannya
3.       Mustahil jika setiap unsur simbolik yang tertera dalam susunan Qur’an itu tidak mengandung makna atau pesan keilmuan
4.       Setiap unsur simbolik dalam Qur’an memiliki karakter khusus sebagaimana setiap unsur alam semesta , termasuk manusia memiliki karakter yang khas pula
5.       Nilai dan letak kewahyuan yang paling dalam dari Qur’an bukan pada susunan bahasa verbalnya yang umum disebut ayat, tetapi pada susunan reaksi unsur-unsur simboliknya
Melalui dasar asumsi inilah maka kita dapat memahani adanya berbagai sinyalemen bahwa:
1.       Qur’an diturunkan per huruf/sandi
2.       Ayat Qur’an diterima dalam bentuk gemuruhnya angin/badai
3.       Ayat Qur’an diterima dalam bentuk dialog internal seorang Muhammad, gerak-gerik alam semesta yang diantisipasinya dengan kata-kata “aku mengerti”
4.       Qur’an tidak dapat dialih-sandikan, apalagi dialih-bahasakan. Qur’an hanya hanya dapat dibaca dengan mata agar si pembaca mengalami dialog internal, yakni menghidupkan unsur sel (fisika, kimiawi dan biologis) yang ada dalam dirinya. Terbukti, dengan membaca Qur’an secara tepat memperlancar proses metabolisme dalam tubuh


Dalam konteks studi fenomenologi Qur’an ini, beberapa teori yang dapat dirumuskan, antara lain:
1.       (huruf Qur’an) huruf/abjad yang dipakai untuk menulis Qur’an di samping merupakan tanda dari bunyi tertentu juga memiliki makna simbolik atau merupakan simbol yang mewakili realitas obyektif tertentu
2.       (angka) angka dalam Qur’an memliki kebenaran tersendiri. angka dalam kaitan nomor surat, ayat maupun juz merupakan petunjuk adanya keterkaitan antara berbagai unsur simbolik
3.       (surat) nama-nama surat dalam Qur’an di samping merupakan simbol dari benda alam semesta juga mencerminkan karakteristik unsur alam semesta termasuk juga karakteristik manusia yang merupakan gambaran kompleksitas eksistensial manusia, baik perjalanan hidup, karakteristik, maupun dimensi kebudayaannya
4.       (juz) juz dalam Qur’an gambaran perbedaan karakter setiap manusia. Setiap orang memiliki juz dalam Qur’an. membaca juz sarana efektif untuk melakukan pengenalan diri dan membaca juz dapat dijadikan sarana penyembuhan segala macam penyakit. Psikologi Qur’an sangat bermanfaat bagi penjelasan mengenai berbagai variasi tingkah laku dan sifat dasar setiap orang
5.       (‘ain) tanda ‘ain dalam susunan format Qur’an catatan kaki. Dapat dipakai untuk mendeteksi kelemahan dan kelebihan fisik setiap orang dalam konteks juznya. Jumlah tanda ‘ain dalam setiap juz mencerminkan struktur tententu yang menggambarkan eksistensi manusia. Filsafat manusia dan kebudayaan dalam Qur’an antara lain terletak pada susunan tanda ‘ain

Semangat bereksperimen dan pembuktian


Kepentingan kita selanjutnya menguji beberapa penjelasan teori di atas dalam eksperimen. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menguji kebenaran teori di atas. Pertama ajukanlah suatu pertanyaan sebagai berikut:
1.      Saya ini orang yang berjuz berapa?
2.      Kenapa saya memiliki kelemahan/keluhan
3.      Fisik yang laten?bagaimana penjelasannya? Kenapa saya memiliki kecenderungan tertentu memandang masalah, melakukan sesuatu dan memecahkan masalah di mana letak sandi tertulisnya dalam Qur’an?
Pertama, carilah jawaban atas beberapa pertanyaan tersebut di atas dengan cara bertadarus 30 juz dengan kaidah baca yang telah ditentukan
Kedua, lakukanlah pendataan susunan Qur’an, niscaya akan dapat ditemui berbagai pola yang sistematik dan mengundang pertanyaan
Ketiga, lakukan percobaan melakukan self-terapi dengan cara membaca Qur’an secara tepat, sebab Qur’an menjanjikan dirinya sebagai asyifa, atau obat segala obat. Dengan demikian, studi ini menuntut kita semua untuk melakukan eksplorasi serius tentang isi Qur’an sehingga kita terbiasa untuk tidak mudah percaya sebelum mengerti dan memahami.

Mushaf Utsmani sebagai dasar penemuan


Jika kita ingin pertanyakan bagaimanakah Qur’an itu disusun? Atau, bagaimanakah susunan Qur’an yang sebenarnya? Apakah ada standar baku susunan Qur’an yang disepakati umat Islam di seluruh dunia? Pernahkah kita berfikir tentang keaslian Qur’an? apakah kita yakin, bahwa Qur’an yang kita warisi sekarang masih asli? Inilah beberapa pertanyaan yang cukup menggelitik kita, paling tidak memancing kuriositi kita untuk mengetahui bagaimanakah sejarah kodifikasi Qur’an itu sendiri.
Selama ini cetakan Qur’an yang beredar kita ketahui dinamai mushaf Utsmani, yang terdapat beberapa ciri yang paling menyolok antara lain: disusun dalam 114 surat, 30 juz, 6236 ayat, urutan nama surat berawal dari surat al-fatihah sampai an-nas yang demikian tidak didasarkan atas kronologi turunnya ayat,  namun dari segi pencetakkannya diterbitkan dalam berbagai variasi perwajahan
Dengan adanya pengukuran-pengukuran terhadap setiap indikator mengakibatkan adanya keteraturan format. Al Qur'an yang menjadi obyek study metoda ini sebagai dasar penemuan formatnya sangat teratur dan mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Terdiri dari 30 Al Juz, dimana setiap Al Juz terdiri dari 16 halaman kecuali juz 1 sebanyak 15 halaman dan juz 30 sebanyak 21 halaman, dan awal Al Juz selalu dimulai dari halaman sebelah kiri.
2.      Ayat pertama atau sebagian dari ayat pertama dalam Juz huruf-hurufnya ada yang dicetak tebal.
3.      Tidak ada ayat yang terpotong oleh halaman kecuali halaman 484
4.      Terdiri atas 114 Surat, 6236 Ayat, 558 Tanda Ruku' [ Í ].
5.      Terdiri atas 485 Halaman dimana setiap halaman terdiri dari 18 Baris.
6.      Halaman dua (2) dan-halaman tiga (3) format barisnya berbeda dengan halaman-halaman lainnya dan pada halaman satu () angka yang menunjukkan halamannya tidak ditulis .


Inilah ciri-ciri format Qur’an mushaf Utsmani yang mendasari dari penemuan fenomenologi simbolik Qur’an sehingga dikala kita ingin memasuki dalam sistem baca sesuai format keilmuan ini maka menganjurkan kita untuk membaca Qur’an dengan cetakan yang sesuai dengan ciri-ciri diatas.







Senin, 17 Mei 2010

PROBLEMATIKA MEMBINA DALAM DUNIA SIAGA

I. PENDAHULUAN
            Dunia anak merupakan dunia imajinasi dimana luang waktu yang ada diwarnai dengan beragam aktifitas permainan dan khayalan. Mereka baru mulai untuk mengenal lingkungan disekitarnya, mereka mulai belajar untuk mengetahui bahkan bagi anak yang cerdas pun akan banyak timbul pertanyaan unik dikarenakan kuriositasnya yang begitu tinggi yang terkadang orang dewasa pun sulit untuk menjawabnya.
            Sebagai salah satu investasi terbesar bagi setiap orang tua, seorang anak diharapkan dapat menikmati masa kecilnya yang penuh canda dan tawa, kebahagiaan dalam permainan yang tentunya memiliki nilai-nilai edukatif , kreatif dan inovatif. Dengan suasana yang demikian perkembangan pada anak dapat memberikan kontribusi yang lebih positif dan lebih membekas.
            Terkait pada kepramukaan, dunia anak identik dengan dunia siaga yang mana dalam satuan ini beranggotakan anak-anak berusia 7 sampai 10 tahun, dan jika dilihat dari tingkat sekolahnya, terdapat pada SD (Sekolah Dasar) kelas 1 sampai kelas 4. Untuk itu pada setiap Gugus Depan yang aktif pastilah terdapat pengajar pramuka yang biasa disebut pembina. Bagi pembina siaga biasanya dipanggil oleh anggotanya Yanda bila pria dan Bunda bila wanita.
            Pada setiap pembelajaran ataupun pendidikan tentulah membutuhkan sebuah proses dan metode yang menunjang guna hasil yang diharapkan, dengan demikian dari sekelimut proses yang ada tentu pula akan menghadapi polemik problematika yang perlu dihadapi dan dipecahkan bersama. Begitu pula problematika membina dalam dunia siaga menuntut setiap pembina untuk memiliki sikap profesionalitas. Dari sikap profesionalitas inilah seorang pembina siaga dituntut untuk memasuki dunia mereka dengan mengetahui jenjang psikis anak di usia siaga, dengan demikian  mempermudah pembina dalam menangani setiap problematika yang ada.
            Dari kutipan diatas penulis sengaja ingin mengulas tentang Problematika Membina dalam Dunia Siaga dan yang perlu diketahui disini adalah karakter apa yang ada di usia siaga, bagaimana sikap pembina yang baik dalam menghadapi dunia siaga dan problematika apa yang akan dihadapi oleh setiap pembina siaga.

II. PEMBAHASAN
            Pengertian membina menurut keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0323/U/1978 tanggal 28 Oktober 1978, tentang Pola Dasar Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda adalah:
“…melaksanakan upaya pendidikan baik formal maupun non formal secara sadar, berencana, terarah dan bertanggung jawab dalam rangka memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing dan mengembangkan suatu dasar kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras, pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat, kecendrungan/keinginan serta kemampuan-kemampuannya sebagai bekal untuk selanjutnya atas prakarsa sendiri menambah, meningkatkan dan mengembangkan dirinya, sesamanya maupun lingkungannya ke arah tercapainya martabat, mutu dan kemampuan manusiawi yang optimal dan pribadi yang mandiri…”
kalau kita simak “cita dan karsa” dari pengertian tersebut di atas, maka:
  1. Membina itu targetnya (object) adalah manusia
  2. Membina itu adalah upaya pendidikan, upaya peningkatan, upaya improvisasi, upaya memajukan.
  3. Membina itu dilaksanakan baik formal, non formal bahkan informal (khususnya untuk orang dewasa) secara sadar, berencana, terarah, teratur dan bertanggungjawab.
  4. Membina sebagai proses upaya pendidikan berisi kegiatan memperkenalkan, menumbuhkan, membimbing dan mengembangakan:
    1. Suatu dasar kepribadian yang seimbang, utuh dan selaras
    2. Pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan bakat
    3. Kecenderungan/keinginan serta kemampuan-kemampuan      
    4. Yang kesemuanya itu (a, b, c) merupakan bekal dalam hidup dan kehidupan manusia yang dibina itu.[1]
      
Terkait pada membina Pramuka, maka seorang pembina pramuka perlu mengetahui faktor-faktor yang menentukan berhasilnya pembinaan sebagai upaya pendidikan. Faktor-faktor itu adalah:
  1. Faktor dasar pembinaan, sebagai pelaksanaan upaya pendidikan kepramukaan, adalah Pancasila dasar filsafat bangsa Indonesia.
  2. Factor tujuan pembinaan, sebagai pelaksanaan upaya pendidikan kepramukaan, sesuai dengan Anggaran Dasar Gerakan Pramuka, adalah mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan prinsip-prinsip dasar metodik pendidikan kepanduan yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaan, kepentingan dari bangsa dan masyarakat Indonesia.
  3. Factor sasaran pembinaan, sasaran yang ingin dicapai dengan pendidikan kepramukaan adalah:
ì  Kuat keyakinan beragamanya
ì  Tinggi mental dan moralnya serta berjiwa Pancasila
ì  Sehat, segar dan kuat jasmaninya
ì  Cerdas, tangkas dan trampil
ì  Berpengetahuan luas dan dalam
ì  Berjiwa kepemimpinan dan patriot
ì  Berkesadaran nasional dan peka terhadap perubahan lingkungan
ì  Berpengalaman banyak[2]
            Membina Siaga berarti mendalami dunia siaga, dunia anak yang perlu diterjuni baik secara psikis maupun pendekatan lainnya untuk itu perlu dikenal dasar kodrati dan didaktis, pertumbuhan dan perkembangannya dalam rangka membantu anak memperoleh perkembangan sumber daya manusia yang optimal. Dengan demikian selayaknya hubungan yang terjadi antara peserta didik dan pembinanya adalah hubungan kemitraan yang bersifat edukatif.
            Perkembangan kejiwaan anak usia siaga perlu dihayati dengan mengenal dan memahami sifat, karakternya baik yang positif maupun yang negatif. Disamping itu ciri-ciri anak usia siaga yang diperhatikan dalam pertumbuhan dan perkembangan antara lain:
  1. Jasmani: aktif bergerak, belum dapat menguasai diri, keseimbangan motorik masih perlu dilatih.
  2. Rohani : pancainderanya merupakan alat penemu khayalan dan fantasinya besar, ingin menemukan yang baru,
  3. Social: berpusat pada diri sendiri, belum menemukan “akunya”, suka meniru walaupun ramai-ramai dan sebagainya.
Dalam membina siaga perlu dipahami bahwa seorang anak sepanjang hayatnya akan mengalami berbagai perubahan dan pengembangan diri sehingga menjadi seorang dewasa yang berciri khas. Seorang anak bukan dewasa yang berbentuk mini, dan sebaliknya juga tidak dapat dikatakan bahwa manusia dewasa merupakan anak dalam bentuk dan ukuran besar. Jadi dapat dikatakan bahwa membina siaga bukan berarti membina “Penggalang kecil”.[3]
            Selain berorientasi kepada sifat dan ciri anak usia siaga, dalam merencanakan kepramukaan bagi pramuka siaga perlu dipahami aspirasi dan kebutuhannya, situasi dan kondisi serta materi atau kegiatannya.
  1. Aspirasi peserta didik harus dapat digali dan ditemukan untuk dijadikan sumber kegiatan dan latihan yang menarik, caranya antara lain:
    1. secara formal: interfew, forum terbuka, pertemuan, musyawarah dan lainnya.
    2. secara informal: pengamatan, pergaulan baik didalam maupun diluar latihan, keluhan dan lain-lain.
  2. kebutuhan bagi anak usia siaga terkadang belum dapat dirasakan apalagi diungkapkan.  Biasanya aspirasilah yang dianggap kebutuhan yang sebanarnya, sedang itu bukan maksudnya. Bahayanya adalah jika orang dewasa mengeidentifikasikan kebutuhan orang dewasa sama dengan kebutuhan anak.
  3. Situasi dan kondisi peserta didik maupun lingkungannya sangat mempengaruhi proses pendidikan. Lingkungan juga ikut menentukan cepat lambatnya proses kegiatan, selain itu visualisasi juga menjadi daya tariknya.

Perkembangan kejiwaan anak usia siaga perlu dihadapi dengan mengenal dan memahami sifat-sifat dan karakteristiknya, antara lain:
  1. yang positif
    1. suka bermain, bergerak dan bekerja
    2. suka meniru, senang mengkhayal
    3. suka menyanyi, gemar mendengar cerita
    4. suka bertanya, ingin tahu, ingin mencoba
    5. suka pamer, suka disanjung, senang kejutan
    6. spontan, lugu, polos, mudah kagum dan suka humor
    7. bersenda gurau, gemar berlomba dan bersaing
    8. gemar membanding-bandingkan
    9. selalu mencari hal-hal yang baru, cepat bosan dan lain-lain
  1. yang negatif
    1. labil, emosional, egois
    2. manja, mudah putus asa
    3. sensitif, rawan, mudah kecewa
    4. kurang perhitungan, tidak mau mengalah
    5. kurang peduli kebersihan jasmaninya
    6. masih malu-malu, memerlukan perlindungan dan lain-lain
Bermain adalah dunia anak-anak seusia pramuka siaga, bermain sebagai proses pendidikan, merupakan alat utama pembinaan pramuka siaga dimana mereka dengan riang dan gembira penuh semangat dan penuh kebebasan, giat melibatkan diri dalam kegiatan permainan. Giat bermain berarti giat dalam proses pendidikan.
            Pramuka siaga merupakan peserta didik golongan pertama dalam gerakan pramuka sebagai bibit awal yang kelak diharapkan bertunas dan berkembang dengan baik melalui kepramukaan.[4] Dengan demikian usia siaga merupakan pembentukan sebagai modal dasar yang ditujukan pada prilaku yang diharapkan, dari itu semua maka pola yang sebaiknya dikembangkan adalah pemberian adab “adibuhum” atau peraturan (regulasi)[5]. Karena dalam usia siaga inilah saatnya untuk mengembangkan kecerdasan social anak. Dari pola ini setidaknya pembina ataupun pendidik benar-benar memberikan suri tauladan yang baik dengan prilaku yang memang pantas ditiru dan penuh santun.
            Dari uraian diatas, maka sangat pentinglah bagi setiap pembina siaga untuk lebih mengetahui dunia permainan dan imajinasi mereka yang mana itu semua merupakan sebuah problematika yang komplek, dan akan sulit dihadapi bagi setiap pembina siaga jika kurang mengetahui dunia mereka. Dari itu semua pembina siaga juga akan selalu dituntut dari segi kreatifitas dalam memberikan permainan yang edukatif, inovatif dan penuh makna serta mendukung pada perkembangan anak yang lebih positif.

III. PENUTUP

            Suatu kenikmatan tersendiri dikala kita melihat mereka (siaga) bergembira ria dengan permainan yang kita berikan diwaktu membina. Tertawa di alam terbuka dengan sesama tanpa disadari bahwa mereka sebenarnya dalam proses perkembangan yang lebih bermakna.
            Demikian penulisan makalah ini yang sekiranya masih jauh dari kesempurnaan yang tentunya masih banyak kekurangan yang perlu dikritisi dan dikoreksi. Wassalam.


[1] Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DKI Jakarta, Panduan Praktis Membina Pramuka Siaga dalam Perindukan Siaga. Jakarta: 2000. hal. 8
[2] Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasa. Jakarta: 1983. hal. 83
[3] Op. Cit. Kwartir Daerah DKI Jakarta. Hal. 79
[4] Ibid. hal. 82
[5] Asror, Miftahul. Mencetak Anak Berbakat Cerdas Intelektual dan Emosional. Jawara Surabaya. Surabaya: 2002. hal. 66